Memetik Hikmah Ibadah Haji
Memetik Hikmah Ibadah Haji
تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ – يَعْنِي : الْفَرِيضَةَ – فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ
“Bersegeralah kalian berhaji-yaitu haji yang wajib-karena salah seorang diantara kalian tidak tahu apa yang akan menimpanya”
Demikianlah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam. Pesan kepada sebagian kaum muslimin yang telah diluaskan rezekinya, disehatkan badannya, dan telah memenuhi syarat wajib haji tetapi tidak bersegera dalam melaksanakannya. Hadis tersebut adalah peringatan dari Nabi bagi kaum muslimin yang gemar menunda persiapan pelaksanaan haji atau bahkan tidak punya niatan haji sama sekali padahal ia mampu dengan alasan masih muda, masih perlu membeli barang-barang yg diinginkan, dan “alasan masih-masih” lainnya.
Memang, kadang-kadang sebagian kita untuk kehidupan akhirat berlagak tidak mampu namun untuk dunia mampu. Kadang kita lebih rela menabung untuk membeli televisi yang kita idam-idamkan, atau telepon genggam yang kita impikan, atau mobil yang kita angan-angankan. Naudzubillahi min dzalik. Kita belum sepenuhnya menyadari bahwa harta yang kita habiskan untuk akhirat itu adalah yg abadi namun harta yang disimpan untuk dunia justru itulah yang mudah sekali hilang dari kita.
Padahal menunaikan haji adalah rukun Islam, kewajiban bagi yang mampu melaksanakannya, dan hendaklah setiap muslim bercita-cita untuk dapat melaksanakannya.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”.
Tahun ini, qadarullah, sebagian besar umat Islam di dunia tidak dapat melaksanakan haji. Hal tersebut dapat memberi ibrah atau pelajaran bagi kehidupan kita. Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari tertundanya pelaksanaan haji tahun ini adalah kebenaran hadis Nabi bahwasanya penting bagi kita untuk bersegera melakukan kebaikan karena kita tidak tahu hal apa kelak yang dapat menghalangi kita dari melakukan kebaikan tersebut. Hikmah berikutnya adalah bahwa, alhamdulillah, Allah telah memberikan kita kesempatan untuk lebih maksimal dalam mempersiapkan diri selama menunggu pelaksanaan haji berikutnya.
Hal ini karena ibadah haji bukan ibadah fisik saja. Melainkan suatu amalan yang memiliki tuntunan dalam mengerjakannya. Tentu, kita menginginkan haji yang mabrur. Haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri kemaksiatan, dan kata “al-mabrur” itu diambil dari kata al-birr yang artinya ketaatan. Dengan kata lain haji mabrur adalah haji yang dijalankan dengan penuh ketaatan sehingga tidak tercampur dengan dosa. Haji Mabrur adalah haji yang diterima dan dilakukan ikhlas karena Allah SWT karena ibadah hajinya telah dilakukan dengan baik dan benar serta dengan bekal yang halal, suci dan bersi. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala atau balasan bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat mabrur.
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).
Nah, untuk meraih predikat haji yang mabrur tersebut tentulah kita perlu mempersiapkan diri. Agar jangan kemudian, kelak kita melaksanakan haji tanpa memahami tuntunannya dengan baik. Lantas, bekal apakah yang paling utama dipersiapkan untuk melaksanakan haji?
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 yang berbunyi
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan bekal sebelum melaksanakan ibadah haji dan bekal terbaik adalah takwa. Dengan diundurnya pelaksanaan haji tahun ini, semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk mempersiapkan bekal takwa tersebut. Apa itu takwa?
Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan berbekal takwa kita berusaha memantaskan diri menjadi orang yang dipanggil Allah menuju Baitullah. Meskipun saat ini mungkin kita benar-benar belum mampu, alangkah baiknya kita menanamkan niat untuk melaksanakan ibadah haji. Karena dari niat yang kuat inilah semoga Allah memampukan kita untuk segera dapat menjawab panggilan-Nya.
Ya, haji adalah panggilan, atau talbiyah. Talbiyah Allah kepada manusia, melalui firman-Nya kepada Nabi Ibrahim alaihissalam dalam QS Al Hajj ayat 27 yang berbunyi
وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”
Menurut tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, tafsir dari ayat diatas yaitu ketika Ibrahim telah selesai membangun Baitullah, malaikat Jibril mendatanginya, kemudian ia memerintahkan Ibrahim untuk menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji. Maka Ibrahim menaiki maqam dan berseru: “Wahai manusia sekalian, diwajibkan atas kalian ibadah haji di Baitullah, maka penuhilah panggilan Tuhan kalian, ‘Laabbaik Allahumma Labbaik : kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
Lalu, bagaimana panggilan itu bisa kita hidupkan pada saat kita tidak bisa berangkat haji. Bagaimanakah talbiyah kita? Yaitu kesiapan untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu wata’ala dengan bersegera melakukan kebaikan. Saat kita mendapat rezeki berlebih, bisa jadi itu adalah panggilan dari Allah agar kita bersedekah dan berzakat karena dalam harta kita terdapat juga hak orang lain. Contohnya juga dalam berkurban, alangkah baiknya kita tidak menyia-nyiakan panggilan kebaikan tersebut. Jangan sampai, dalam perkara dunia kita bersegera dan berlomba, tetapi justru menunda dan memilih kalah dalam urusan akhirat.
Jika pembaca ingin menyaksikan kajiannya silakan melalui kanal Youtube Mafaza TV di bawah ini
https://www.youtube.com/watch?v=46dNceudXo8
https://www.youtube.com/watch?v=iKnWVTAxGWg
Subscribe dan nyalakan notifikasi jika dirasa bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar