Panen Ibrah dari Peristiwa Hijrah Rasulullah

 



Panen Ibrah dari Peristiwa Hijrah Rasulullah

(Catatan Kajian dari Ceramah Ustad Suhairi Umar, M.P.d dengan rujukan tulisan Syekh Tholal Mis’al dan buku ar-Rasul wa Khulafauhu karya ‘Abdullah ‘Umar Khiyat).

Di dalam bahasa Arab, kata hijrah memiliki huruf dasar ha – jim – ro (hajara, yahjuru, hajran). Hijrah memiliki beberapa pengertian. Diantara pengertian hijrah yaitu (1) keluarnya seseorang dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan tujuan untuk mencari rasa aman atau memperoleh rezeki dan penghidupan; (2)berpindahnya seseorang dari suatu negeri ke negeri lain, di mana negeri tujuan tersebut bukan negerinya sendiri atau bukan tanah kelahirannya, untuk tinggal selamanya di negeri tersebut. Ditinjau dari pengertian hijrah secara bahasa di atas, ada tiga alasan seseorang berhijrah, yaitu untuk mencari aman, mencari rezeki, atau mencari tempat tinggal permanen di negara lain.

Sedangkan pengertian hijrah secara istilah adalah Al khuruju min ardil kufri ilal ardil islam. Makna hijrah yang spesifik dalam perspektif agama Islam adalah keluar dari daerah kafir, daerah yang penduduknya tidak menyembah Allah dan menghalang-halangi seorang muslim melaksanakan ibadah sehingga mengancam aqidah dan keimanannya,  menuju kepada negeri islam atau daarul islam, daerah di mana seorang muslim lebih dapat menjaga keselamatan aqidah dan keimanannya, serta dapat melaksanakan ibadah tanpa halangan, ancaman, ataupun tekanan. 

Hijrah dengan definisi di atas digambarkan dalam sejarah di mana Rasulullah SAW keluar dari Mekah ke Madinah, bukan karena ingin mencari harta, bukan pula ingin mencari tempat tinggal baru. Melainkan, keluar dari ardul kufri, daerah musyrikin, kepada ardil islam, wilayah di mana kaum muslimin dapat menyelamatkan aqidah dan beribadah dengan nyaman. Maka di Madinah, berdirilah   sebuah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga hijrah yang syar’i yaitu berpindahnya seseorang dari tanah kafir menuju kepada tanah islam. Dari pengertian ini jugalah berasal sebutan hijrah bagi seseorang yang sebelumnya non muslim lalu masuk ke dalam Islam. Atau, orang yang sebelumnya bergelimang dosa dan bermaksiat dalam hidupnya baik pada pemikirannya, pekerjaannya, ataupun pergaulannya, kemudian ia pindah ke tempat yang lebih baik, ke tempat yang shaleh, yang bisa menjaga imannya,  maka istilah tersebut juga disebut dengan hijrah.

Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah tentu sudah tidak asing bagi kita. Namun, poin yang mesti kita pahami adalah bahwa Baginda Nabi SAW keluar dari Mekah bukan karena rasa benci terhadap kota Mekah. Adapun pelajaran yang dapat dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW, menurut Syekh Tholal Mis’al, yaitu,

1.      1.  Al aqidatu a’la minal waqan.

Ibrah pertama yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrahnya Nabi adalah bahwa aqidah islam itu lebih mahal dari apapun, termasuk negara ataupun tempat kelahiran. Nabi hijrah bukan untuk harta tapi untuk menyelamatkan aqidahnya, menyelamatkan iman para sahabat. Kala hendak meninggalkan Mekah, Nabi bersabda “Wallahi, demi Allah..Sesungguhnya engkau wahai Mekah adalah kota yang paling baik di bumi Allah ini. Dan engkau adalah kota yg paling dicintai Allah SWT. Sungguh, kalaulah bukan karena dipaksa keluar,  niscaya aku tidak pernah meninggalkan kota ini.”  (HR. Tirmidzi, no. 3925, hadits hasan gharib shahih)

Syekh Qardhawi menyatakan, jika seandainya kita lahir di suatu negeri dalam kondisi aman damai dan tidak ada yg memaksa merubah akidah kita maka lebih baik kita tinggal di negeri tersebut. Selama tidak ada yang melarang kita untuk shalat, zakat, haji, menutup aurat dan sebagainya, serta kondusif dan mendukung untuk pelaksanaan ibadah, maka tempat tersebut tidak boleh kita tinggalkan. Sebab, kedua nikmat tersebut sudah kita dapatkan, yang pertama aqidah yang selamat, yang kedua terpenuhinya hak-hak sebagai warga negara bagi kita baik untuk memperoleh pendidikan, bekerja, berpendapat, dan sebagainya. Dan hal tersebut mesti kita syukuri dan perlu kita jaga. Tetapi, seandainya akidah kita terancam, kita tidak bisa melaksanakan ajaran islam, sulit mendirikan masjid, dibatasi untuk ibadah, maka kita harus memilih antara diam di tempat tersebut  atau pergi mencari tempat yang lain.

2.      2. Fashul khitab dzolimin

Ibrah kedua dari peristiwa hijrahnya Nabi adalah fashul khitab dzolimin, yaitu  upaya orang-orang kuffar untuk menghalang-halangi dakwah Nabi semuanya gagal.  Kedzaliman tidak akan berhasil dan yang menang adalah kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Israa ayat 81,

وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا

                                                               

Dan katakanlah,“Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap

 

Kalahnya yang batil dan menangnya  kebenaran dalam peristiwa hijrahnya Nabi, digambarkan dalam Al-Qur’an Surah Yasin ayat 9: “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” Ketika Nabi dikepung kaum musyrikin saat akan hijrah, Allah memberikan pertolongan dengan membutakan mata mereka dengan asbab Nabi menaburkan pasir di atas kepala mereka. Sehingga, upaya mereka pun gagal.

 

3.     3.  Hirsun nabi ala sohbah

Nabi mengajarkan pentingnya teman dalam perjalanan hijrah. Ketika hendak hijrah, Nabi mendatangi Abu Bakar, mengajak beliau untuk hijrah ke Madinah bersama. Ibrahnya adalah bahwa seorang muslim tidak bisa keluar dari jamaah. Tidak bisa memperjuangkan islam sendirian, melainkan harus mencari kawan seperjuangan.

 

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الْإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Hendaklah kalian selalu bersama Al–Jama’ah. Dan janganlah kalian berpecah belah, karena setan itu selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia lebih jauh (HR. At-Tirmidzi)

 

Maka carilah teman saat berhijrah. Jika di perjalanan tidak ada teman,  carilah teman setelah tiba ditempat tujuan. Sebagaimana lumrah kita amati, misalnya mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri mencari komunitas untuk diikuti. Ada komunitas yang berdasar hobi, suku, bahasa, bangsa, tetapi yg paling baik adalah komunitas yang seakidah. Tujuannya? Agar menjaga iman kita. Berarti dalam hal ini, memilih teman yang akan menemani dalam hijrah tidak kalah penting. Abu Bakar adalah contoh teman yang perlu dicari. Beliau  dipilih Rasul karena merupakan sahabat yang pertama membenarkan kebenaran. Ketika semua orang mengatakan “kazzaba Muhammad” (Muhammad itu pendusta), Abu Bakar mengatakan “Shodaqo Muhammad” (Muhammad itu benar) dan bahkan banyak membantu dakwah Nabi dengan luar biasa. Nah, ibrahnya adalah bahwa dalam perjalanan hijrah, hendaklah kita memilih sahabat yang punya sifat menjaga kita untuk istiqomah di jalan Allah.

4.      4. Al ahdu bil asbab

Ibrah keempat adalah pentingnya mengatur strategi. Sebenarnya, tentulah Rasulullah tidak perlu berpikir susah karena beliau pasti ditolong oleh Allah SWT. Namun, Allah hendak  memberikan kita pelajaran bahwa sekelas Nabi Muhammad saja, yang merupakan kekasih Allah, perlu membuat strategi ketika akan berhijrah. Buktinya, ketika akan hijrah Nabi mencari tempat tersembunyi terlebih dahulu untuk bersembunyi. Tidak langsung berangkat dari rumah menuju Madinah. Melainkan bersembunyi di tempat tersebut selama tiga hari. Strategi kedua yang dilakukan Nabi adalah dengan meminta pengembala kambing menyusuri jalan yang sebelumnya dilalui Nabi untuk menghapus jejak. Strategi selanjutnya adalah Rasul menyewa orang untuk menjadi penunjuk jalan menuju Madinah dengan rute yang berbeda dari rute yang biasa dilewati. Setelah membuat semua strategi, maka disempurnakan dengan tawakkal kepada Allah. Hal inilah yang diajarkan Nabi kepada umatnya, agar senantiasa giat berusaha dalam meraih hal-hal baik, bukan hanya berharap dan berangan-angan namun malas merencanakan dan mengusahakannya.

Membaca  keempat ibrah dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW di atas, maka wajar apabila tahun Islam dimulai dari peristiwa hijrah ini. Bukan dari kelahiran beliau,bukan dari kenabian beliau, bukan pula dari hari kematian beliau. Melainkan, dari peristiwa hijrahnya beliau karena begitu besarnya makna yang menyertai peristiwa tersebut sekaligus menjadi ibrah yang dapat sama-sama kita pelajari untuk diamalkan dalam kehidupan. 

 

 

Jika pembaca ingin menyaksikan kajiannya silakan melalui kanal Youtube Mafaza TV

https://www.youtube.com/watch?v=rpkItnh3uf0 

Subscribe dan nyalakan notifikasi jika dirasa bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Hikmah Ibadah Haji

Diary Pemimpin Kecil Episode 01: Biasa Beramal Jangan Menuntut Balasan