Menjauhi Ujub dan Ghurur

 



Menjauhi Ujub dan Ghurur

(Catatan kajian dari Ustadz Abdul Manan, Lc di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto)

 

Ujub dan ghurur adalah perbuatan zalim yang dilarang untuk dikerjakan, sementara kita sebagai manusia punya potensi untuk melakukan perbuatan tersebut. Padahal kedua sifat ini sangatlah berbahaya. Mari kita kenali kedua sifat tercela ini agar dapat menjauhinya.  

Ujub adalah berbangga diri atau kagum dengan apa yang dimiliki. Sangat penting bagi seorang muslim untuk waspada dengan sifat ujub dan bersungguh-sungguh agar tidak ada dalam dirinya sifat sombong lagi berbangga diri. Hal ini karena ujub merupakan salah satu di antara penyebab kerusakan pada harta dan jiwa.

Allah SWT mengingatkan kepada diri dan jiwa kita dalam QS Al-Infitar ayat 6 “Yā ayyuhal-insān,”, “Wahai manusia!”.  Mengapa Allah memanggil kita dengan sebutan insan? Al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan. Lalu, “Mā garraka birabbikal-karīm.”, “Apa yang menyebabkanmu tertipu dengan dirimu sendiri sehingga berbuat durhaka kepada Tuhanmu yang Maha Pemurah?”

Tertipu dengan diri sendiri adalah penjelasan dari kata ghurur. Ghurur, sama halnya dengan ujub, adalah punca kebinasaan karena berpotensi mendorong seorang hamba berbuat durhaka atau kufur.

Ujub disebut dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Tiga perkara yang membinasakan yaitu (1) kebakhilan yang ditaati, (2) hawa nafsu yang dituruti, (3) takjubnya seseorang kepada dirinya sendiri. Misalnya kekaguman dengan hartanya, begitu senang dengan ilmunya, kepandaiannya, fisiknya, dan sebagainya. Sekali lagi, ujub pada diri sendiri adalah perkara yang membinasakan.

Di dalam Al-Quran, Allah SWT mengajarkan kepada kita untuk menjauhi ujub melalui banyak kisah yang disajikan di dalamnya.

Kisah mengenai ujub pada surah al Baqarah menceritakan mengenai iblis. Iblis itu terkagum dengan dirinya sendiri, dengan kondisi dan keadaannya. Kata ‘Iblis’ sendiri berarti ‘yang dilaknat’. Laknat itu berarti jauh dari rahmat allah. Kenapa jauh? Tidak lain adalah karena sifat ujub yang kemudian mendorong Iblis untuk merasa sombong, lalu menjadi hasad dan dengki sehingga ia mengingkari perintah Allah untuk memberi sujud penghormatan kepada Adam.

Iblis mulanya bernama “Azazil”. Imam Ibnul Qayyim, dalam kitab tafsir menjelaskan bahwa pada lapisan-lapisan langit di antara para malaikat, dahulu Iblis sangat terkenal dengan ilmunya yang tinggi, keshalihannya, kezuhudannya, ibadahnya dan sebagainya. Hingga rahmat yang ia peroleh tersebut berbalik menjadi laknat tatkala ia ujub atau merasa dirinya lah yang paling baik, dibanding Adam yang diciptakan dari tanah. Di dalam surah Al Kahfi ayat 50 juga dikisahkan, “Wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, kāna minal-jinni fa fasaqa 'an amri rabbih” yang artinya “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya”.

Di dalam Al-Quran, terdapat juga kisah Kaum Ad. Kaum yang sombong dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka berbangga diri dengan fisik yang kuat sehingga mampu memahat bukit-bukit berbatu. Dengan sombong meraka mengatakan “adakah selain dari kita yang lebih kuat?” Maka Allah membinasakan kaum tersebut.

Lalu bagaimana cara menjauhi sifat ujub dan ghurur?

Surah Al Kahfi ayat 23-24 mengisahkan tatkala beberapa orang quraisy bertanya kepada nabi tentang roh, kisah penghuni gua dan kisah zulkarnain. Nabi Muhammad SAW menyuruh mereka datang besok pagi dan beliau menjanjikan akan menceritakan kepada mereka besok. Namun ternyata keesokan harinya, Nabi belum bisa memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut. Dalam ayat ini, Allah hendak mengajarkan kepada kekasihnya sekaligus pengajaran bagi kita selaku umat Nabi Muhammad SAW bahwa janganlah mengatakan “Sungguh aku akan mengerjakan sesuatu besok”, kecuali mengucapkan insya Allah (jika Allah kehendaki). Mengatakan Insya Allah terhadap rencana kita akan membantu mengatasi sikap ghurur atau tertipu dengan diri kita sendiri,Insya Allah. Karena sesungguhnya kita tidak akan mampu mewujudkan apa yang kita rencanakan tanpa pertolongan Allah.

Di dalam surah Al Kahfi terdapat pula kisah pemilik kebun yang berbangga hati dengan kebun yang ia miliki. Ia tertipu dengan harta dan kekayaannya hingga mendorongnya kepada kebakhilan. Sang pemilik kebun yang ujub, angkuh dan kufur karena mengingkari nikmat dari Allah, berkata kepada temannya : “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat, aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira hari Kiamat itu tidak akan datang.”

 Temannya berkata “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?”. “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.”

Dan tahukah pembaca sekalian apa yang terjadi pada kebun tersebut? Sang pemilik kebun mendapati kebunnya telah luluh lantak dan binasa, menunjukkan Maha Kuasanya Allah membalikkan nikmat menjadi azab dan betapa berbahayanya sifat ujub yang tercela itu.

Maka ketika melihat sesuatu yg mengagumkan, baik yang kita miliki ataupun milik orang lain, kita disunnahkan mengucapkan Masya Allah. Maka Allah akan memberikan tambahan keberkahan padanya, Insya Allah.

Seringkali kita lupa dan mudah tertipu dengan kekayaan, harta benda dan keturunan padahal itu bukan milik kita melainkan milik Allah. Apa buktinya? Salah satu buktinya adalah ketika sesuatu yang kita senangi pergi atau hilang, maka kita disunnahkan membaca “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Tidak hanya jiwa yang akan kembali melainkan semua benda yang kita miliki saat ini sesungguhnya kepemilikannya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka dari itu pula seorang mukmin tidak berlarut kesedihannya mengenai apa yang luput darinya, karena ini juga seorang mukmin mudah berinfak dan bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit karena yakin harta itu milik Allah dan Allah menjanjikan pahala goiru mamnun, pahala yang tiada putusnya.

Bagaimana jika terlanjur pernah melakukan ujub dan ghurur?

Mari kita belajar dari sebuah kisah tentang sahabat nabi tatkala perang hunain.  Saat itu jumlah pasukan islam lebih besar dan para sahabat merasa berbangga diri: “Kita tidak akan kalah karena lebih banyak”. Maka Allah menegur sehingga tiba-tiba saja lawan memberi serangan mendadak dan pasukan islam kocar-kacir. Musuh mengira akan menang, namun Rasulullah mengingatkan para sahabat. Para sahabat tersadar dan berkata “Labbaik ya Rasulullah!”Maka Allah kembali membalikkan keadaan ketika para sahabat menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Para sahabat adalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, namun istimewanya segera ingat kepada Allah, bertaubat dan beristighfar. Hendaknya kita juga demikian. Karena sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bersegera mengingat Allah dan bertaubat kepada-Nya.  

 

Jika pembaca ingin menyaksikan kajian dapat melalui kanal Youtube Mafaza TV

https://youtu.be/G3f8oI-axbQ

Jangan lupa subscribe dan nyalakan notifikasi jika dirasa bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Hikmah Ibadah Haji

Panen Ibrah dari Peristiwa Hijrah Rasulullah

Diary Pemimpin Kecil Episode 01: Biasa Beramal Jangan Menuntut Balasan