Kisah Sahabat Nabi : Nu’man Bin Muqorrin
Kisah Sahabat Nabi : Nu’man Bin Muqorrin
(Catatan kajian dari Ust. Suhairi
Umar, M.Pd.I di Masjid Fatimatuzzahra)
Nu’man bin Muqorrin Almuzaini r.a adalah salah seorang sahabat Nabi yang berasal dari suku Muzainah, yaitu suku yang bermukim di wilayah antara Mekah dan Madinah atau lebih tepatnya di pinggiran Madinah. Beliau merupakan sahabat yang memiliki umur cukup panjang yakni hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a. Dalam kisahnya, Nu’man bin Muqorrin memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain. Terutama diantaranya, keistimewaan-keistimewaan yang menggambarkan kecintaan beliau kepada Allah dan Rasulnya, yang dapat kita jadikan pembelajaran.
Adalah Nu’man bin Muqorrin, seorang yang ketika mendengar dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah, dengan bersegera mengumpulkan keluarganya, saudara-saudaranya, dan para pembesar kabilahnya untuk diajak masuk ke dalam Islam. Sehingga ketika itu, Beliau tidak datang sendirian ke Madinah untuk berbaiat kepada Nabi dan mengucapkan syahadat, melainkan mengajak serta orang-orang di kabilahnya. Ajakan Nu’man disambut baik masyarakat di kabilahnya sehingga mereka beramai-ramai berangkat ke Madinah hendak menjumpai Nabi Muhammad SAW.
Dalam peristiwa tersebut, Nu’man adalah contoh yang mengajarkan bahwa ketika satu orang melihat kebaikan dan berniat mendatangi kebaikan itu maka yang lebih baik dilakukan adalah mengajak orang lain untuk sama-sama bergabung dengan kebaikan tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan, ''Man dalla 'ala khoirin falahu mitslu ajri fa'ilihi',' yang berarti ''Barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan'' (HR. Muslim).
Keistimewaan Nu’man bin Muqorrin tidak hanya sampai di sana. Ketika semua masyarakat antusias ke Madinah, Nukman tidak melupakan satu hal, yaitu keinginannya untuk bersedekah di jalan Allah. Beliau ingin menjumpai Nabi bukan hanya dengan membawa iman tetapi juga membawa amal saleh. Beliau sangat ingin memberikan sesuatu yang istimewa kepada Nabi dan perjuangan dakwah Islam.
Padahal, saat itu merupakan masa paceklik, di mana rumput-rumput mengering dan binatang ternak menjadi kurus. Namun Nu’man tidak putus asa. Beliau kembali mengajak orang-orang yang memiliki harta untuk dikumpulkan dan dibawa ke Madinah. Sehingga, jadilah kabilah yang berasal dari pinggiran Madinah tersebut, datang kepada Rasulullah dengan membawa harta untuk diinfakkan di jalan Allah. Maka Madinah ketika itu dengan gegap gempita menerima kedatangan Nu’man dan kabilahnya.
Nabi Muhammad SAW tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika itu. Dari peristiwa tersebut turunlah firman Allah dalam Surah At- Taubah ayat 99, yang artinya “Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Keistimewaan Nu’man bin Muqorrin selanjutnya adalah ketika ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk memimpin pasukan Islam. Kala itu, pasukan Islam di bawah kepemimpinan Nu’man mengukir peristiwa yang sangat terkenal dalam sejarah, yaitu “Fathul huthuh”. “Fathul huthuh” bermakna pembebasan dari seluruh pembebasan atau dapat dimaknai sebagai pembebasan pamungkas dari keberhasilan umat islam. Mengapa bisa demikian?
Hal tersebut berkaitan dengan takluknya negeri Nahawan, wilayah terakhir dari kekuasaan Persia, oleh pasukan Islam di bawah komando Nu’man. Persia merupakan kekaisaran yang telah berdiri sangat lama dan terkenal sebagai negara yang penduduknya menyembah api. Saat penaklukan itu, 150.000 pasukan Persia dikerahkan melawan 30.000 pasukan muslimin. Namun, hal tersebut tidak menciutkan keberanian pasukan Islam. Bagi umat Islam, jumlah yang besar bukanlah sebuah halangan. Melainkan yang ditakutkan adalah jika mereka tidak ditolong Allah. Bagi umat Islam, jumlah lawan yang lebih banyak bukanlah bencana. Bencana bagi pasukan muslimin adalah jika merasa besar karena jumlah dan peralatan perang, tetapi tidak merasa besar karena pertolongan Allah.
Nu’man bin Muqorrin mendapat dua kemuliaan di dalam penaklukkan tersebut. Yang pertama adalah kemuliaan kemenangan pasukan Islam dan yang kedua adalah kemuliaan mati syahid. Istimewanya, ketika perang berlangsung, tidak ada pasukan Nu’man yang menyadari bahwa Nu’man telah wafat. Hal tersebut terjadi karena Nu’man saat itu didampingi oleh adiknya sendiri, yang menutupi jenazah Nu’mah dengan jubahnya. Dengan demikian, tidak ada pasukannya yang menyadari kematian pemimpinnya sehingga pasukan muslimin dengan gagah berani berjuang meraih kemenangan. Hingga setelah perang usai, tatkala pasukan muslimin hendak mengajak pemimpinnya untuk merayakan kemenangan, mereka tidak menemukan Nu’man. Mereka mencari Nu’man dan bertanya kepada adiknya. Barulah mereka mengetahui bahwa pemimpin mereka telah menjemput syahid ketika sang adik menyingkap jubahnya dan berkata, “Inilah pemimpin kalian, Allah sudah membahagiakan kedua matanya dengan kemenangan yang besar ini dan Allah sudah memberikan rizki kepadanya sebagai kemuliaan syahid”
Lalu, bagaimanakah strategi yang digunakan Nu’man dan pasukannya dalam peperangan ini? Saat itu, pasukan Persia bersembunyi dibalik benteng yang kuat, sehingga pasukan Islam berkemah di luar benteng menunggu musuh keluar. Namun, ternyata persediaan Persia lebih mencukupi sehingga mereka dapat bertahan berbulan-bulan lamanya. Nu’man mengatur strategi baru. Beliau memerintahkan sebagian pasukan tetap mengepung benteng sementara sebagian lagi bersembunyi. Sehingga pada malam itu mereka menyalakan api tidak terlalu banyak. Keesokan harinya, mereka diminta pergi meninggalkan kemah sehingga musuh melihat pasukan Islam melarikan diri. Akhirnya pasukan Persia terpancing mengejar pasukan Islam sampai di antara 2 bukit. Padahal, di balik 2 bukit tersebut sudah disiapkan pasukan yang dikomandoi langsung oleh Nu’man dengan isyarat takbir. Pasukan yang terlihat kabur tadi ternyata bukan melarikan diri melainkan mengitari bukit dan berbalik menyerang pasukan Persia. Itulah ukiran sejarah sebagai bukti kepiawaian Nu’man bin Muqorrin dalam mengatur strategi perang.
Ibrah dari rentetan peristiwa di atas adalah bahwa terkadang kelemahan pemimpin tidak perlu diketahui pasukannya karena akan membuat pasukannya bimbang dan ragu-ragu. Pelajaran dari kisah sahabat ini senada dengan jati diri pemimpin sejati yang dicontohkan Jenderal Soedirman tatkala memimpin gerilya dengan semangat yang begitu luar biasa meski dalam kondisi sakit. Demikian pula Umar Mukhtar, seorang pejuang pemberani yang memimpin kaum muslimin melawan penindasan kaum kolonial di Libya, yang dengan piawai memukul mundur tentara Italia hingga akhirnya menjemput syahid. Termasuk juga dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ketika para pahlawan dengan gagah berani melawan penjajah meskipun musuh lebih unggul dari segi persenjataan dan jumlah. Karena sejatinya, kekuatan fisik itu dibangun dari kekuatan mental dan spiritual, bukan dari jumlah dan persenjataan semata. Inilah salah satu manfaat mempelajari sirah sahabat nabi, dimana ibrah yang diambil darinya telah menjadi sumber inspirasi pemimpin besar di dunia. Serta melahirkan pemimpin hebat yang berani berkorban untuk kepentingan umat sebab mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika pembaca ingin menyaksikan kajian dapat melalui kanal Youtube Mafaza TV
https://www.youtube.com/watch?v=skQ44ZMyilM
Silakan subscribe dan nyalakan notifikasi jika dirasa bermanfaat

Komentar
Posting Komentar